Bab 9
Analisis
laporan keuangan dan pengukuran kinerja
A.
Latar
Belakang Masalah
Bank adalah
badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan
menyalurkan kembali kepada kelompok masyarakat yang lain dalam bentuk kredit
serta bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
banyak. Bank perkreditan rakyat (BPR) adalah lembaga keuangan bank yang
menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan, atau bentuk
lainnya yang dipersamakan dengan itu dan menyalurkan kembali dalam bentuk
kredit. Dasar hukum BPR adalah UU perbankan nomor 10 tahun 1998 dengan memenuhi
persyaratan tatacara yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
Dalam
menjalankan usahanya, bank tentu memiliki tujuan yang ingin dicapai agar usaha
yang dilaksanakan terus berkelanjutan dan dapat menyediakan berbagai jenis
produk. Oleh karena itu, dibutuhkan perencanaan keuangan yang tepat dan akurat
agar usaha yang dijalankan dapat dipantau perkembangannya. Hal ini bisa dilihat
melalui laporan keuangan dalam satu periode tertentu. Kasmir, (2008:66) Agar
laporan keuangan menjadi lebih berarti, sehingga dapat dipahami dan dimengerti
oleh berbagai pihak, perlu dilakukan analisis laporan keuangan. Bagi pihak
pemilik dan manajemen, tujuan utama analisis laporan keuangan adalah agar dapat
mengetahui posisi keuangan perusahaan saat ini. Dengan mengetahui posisi
keuangan, setelah dilakukan analisis laporan keuangan secara mendalam, akan
terlihat apakah perusahaan dapat mencapai target yang telah direncanakan
sebelumnya atau tidak.
Ulin Ni’mah
(2011:4-5) Analisis laporan keuangan mencakup pengaplikasian berbagai alat dan
teknik analisis pada laporan dan data keuangan dalam rangka untuk memperoleh
ukuran dan hubungan yang berarti dan berguna dalam proses pengambilan keputusan
baik pihak internal maupun pihak eksternal. Dengan demikian tujuan analisis
laporan keuangan adalah mengkonversikan data menjadi informasi.
Kasmir,
(2008:68) Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam analisis laporan
keuangan, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan
dalam satu periode tertentu, baik harta, kewajiban, modal, maupun hasil usaha
yang telah dicapai untuk beberapa periode.
2.
Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan apa saja
yang menjadi kekurangan perusahaan.
3.
Untuk mengetahui kekuatan-kekuatan yang
dimiliki.
4.
Untuk mengetahui langkah-langkah perbaikan apa
saja yang perlu dilakukan kedepan yang berkaitan dengan posisi keuangan
perusahaan saat ini.
5.
Untuk melakukan penilaian kinerja manajemen
kedepan apakah perlu penyegaran atau tidak karena sudah dianggap berhasil atau
gagal.
6.
Dapat juga digunakan sebagai pembanding dengan
perusahaan sejenis tentang hasil yang mereka capai.
Analisis laporan keuangan juga
dijadikan dasar untuk penilaian atas kinerja keuangan dan prestasi manajemen.
Kinerja keuangan perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan
suatu perusahaan yang dianalisis dengan alat-alat analisis keuangan. Sehingga
dapat diketahui baik buruknya keuangan suatu perusahaan yang mencerminkan
prestasi kerja dalam satu periode tertentu.
Cara untuk mengetahui baik buruknya
kinerja keuangan suatu perusahaan dapat diketahui dengan cara menganalisis
hubungan dari berbagai pos dalam suatu laporan keuangan. Agar laporan keuangan
lebih mudah untuk dipahami, dibaca, dan dimengerti, maka laporan keuangan perlu
dianalisis terlebih dahulu dengan berbagai alat analisis yang biasa digunakan.
Salah satu alat analisis tersebut dikenal dengan analisis rasio keuangan.
Kasmir, (2008:100) Analisis rasio
keuangan merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan pos-pos
yang ada dalam satu laporan keuangan atau pos-pos antara laporan keuangan
neraca dan laporan laba rugi. Analisis pos-pos neraca akan memberikan gambaran
tentang posisi keuangan perusahaan, sementara analisis terhadap laporan laba
rugi akan mendeskripsikan hasil atau perkembangan usaha dari perusahaan.
Rasio keuangan juga digunakan untuk
mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Dari hasil rasio keuangan
akan terlihat kondisi kesehatan perusahaan yang bersangkutan sehingga dapat
menilai kinerja manajemen dalam suatu periode. Kasmir, (2008:105) dalam
praktiknya, analisis rasio keuangan suatu perusahaan dapat digolongkan menjadi
sebagai berikut:
1.
Rasio neraca, yaitu membandingkan angka-angka
yang hanya bersumber dari neraca.
2.
Rasio laporan laba rugi, yaitu membandingkan
angka-angka yang hanya bersumber dari laporan laba rugi.
3.
Rasio antarlaporan, yaitu membandingkan
angka-angka dari dua sumber (data campuran), baik yang ada di neraca maupun di
laporan laba rugi.
Dalam
penelitian ini penulis menggunakan analisis rasio likuiditas bank, rasio
solvabilitas bank, dan rasio rentabilitas bank. Dengan perhitungan ketiga rasio
tersebut dianggap sudah cukup untuk melakukan penilaian kinerja keuangan suatu
bank, karena ketiga rasio tersebut mencakup faktor-faktor utama penilaian
kinerja bank. Diantaranya tingkat likuiditas bank dan pengukuran tingkat
efisiensi usaha dalam mendapatkan profit yang akan dicapai. Dengan demikian,
hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengambilan
kebijakan yang akan dilaksanakan bank.
B.
Perumusan Masalah
1.
Identifikasi
masalah
Kinerja keuangan merupakan hal penting yang harus dicapai oleh setiap
perusahaan dimanapun, karena kinerja merupakan cerminan dari kemampuan
perusahaan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber dayanya. Dengan begitu,
dapat diketahui baik buruknya kondisi kinerja keuangan perusahaan dalam setiap
periodenya.
Berdasarkan laporan keuangan laba rugi PT. BPR Sindang Binaharta Lubuklinggau
periode 31 Desember 2010 s/d 31 Desember 2014, Maka dapat dilihat bahwa kinerja
keuangan perusahaan cukup baik dalam setiap periode nya. Dimana terjadi
kenaikan laba yang cukup signifikan pada tahun 2010 s/d 2012. Tetapi pada tahun
2013 terjadi penurunan laba perusahaan.
Apabila hal ini dibiarkan saja dan tidak segera diatasi dan terus mengalami
penurunan ditahun berikutnya, maka akan berakibat buruk pada kinerja keuangan
perusahaan itu sendiri. Diharapkan agar kedepannya masalah ini dapat
terselesaikan dan perusahaan dapat meningkatkan lagi kinerja perusahaan agar
memperoleh laba yang lebih maksimal .
2.
Batasan
masalah
Seperti kita ketahui, dalam menilai kinerja keuangan penulis menggunakan
analisis rasio keuangan. Oleh karena alat untuk menganalisis rasio keuangan
sangat banyak, maka peneliti memberi batasan pada kinerja keuangan diukur
dengan menggunakan rasio likuiditas bank, rasio solvabilitas bank dan rasio
rentabilitas bank selama periode 31 Desember 2010 s/d 31 Desember 2014. Hal ini
ditujukan, agar penelitian dan hasil penelitian lebih fokus.
3.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dijabarkan dalam penelitian ini,
diantaranya adalah:
1.
Bagaimana kinerja keuangan PT. BPR Sindang
Binaharta dilihat dari rasio likuiditas bank?
2.
Bagaimana kinerja keuangan PT. BPR Sindang
Binaharta dilihat dari rasio solvabilitas bank?
3.
Bagaimana kinerja keuangan PT. BPR Sindang
Binaharta dilihat dari rasio rentabilitas bank?
C.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian
pada PT. BPR Sindang Binaharta Lubuklinggau adalah sebagai:
1. Untuk mengetahui tingkat likuiditas bank yang diukur dengan menggunakan
rasio likuiditas bank.
2. Untuk mengetahui kinerja bank dalam mencari sumber dana untuk membiayai
kegiatannya dengan menggunakan rasio solvabilitas bank.
3. Untuk mengetahui kinerja bank dalam mendapatkan laba dan efisiensi dengan
menggunakan rasio rentabilitas bank.
D.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil
dari penelitian ini adalah:
1.
Manfaat
teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih konseptual bagi
perkembangan dunia ilmu ekonomi, khususnya analisis laporan keuangan dan
sebagai pembelajaran penerapan teori yang telah diperoleh selama masa perkuliahan dan membandingkan dengan realita yang ada
di dunia nyata.
2.
Manfaat praktis
a. Bagi perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan .
b. Bagi penulis, sebagai sarana penerapan ilmu pengetahuan dan tambahan
wawasan mengenai cara menganalisis kinerja keuangan pada suatu perusahaan.
c. Bagi pembaca, diharapkan mampu memberikan referensi bagi pembaca dan berguna
untuk penelitian serupa dimasa yang akan datang.
E.
Tinjauan Pustaka
1.
Kinerja
Keuangan
a.
Definisi Kinerja Keuangan
Kinerja merupakan hal penting yang harus dicapai oleh setiap perusahaan
dimanapun, karena kinerja merupakan cerminan dari kemampuan perusahaan dalam
mengelola dan mengalokasikan sumber dayanya, Tri Yanda Ramayanti (hal:2).
Kinerja keuangan suatu perusahaan juga dapat diartikan sebagai prospek atau
masa depan, pertumbuhan dan potensi perkembangan yang baik bagi perusahaan.
Informasi kinerja keuangan diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber
daya ekonomi, yang mungkin dikendalikan dimasa depan dan untuk memprediksi
kapasitas produksi dari sumber daya yang ada (barlian, 2003) dalam Yuli Orniati
(2009:206).
Menurut Jumingan, (2005:239) kinerja keuangan juga merupakan gambaran
kondisi keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu baik menyangkut aspek
penghimpunan dana maupun penyaluran dana yang biasanya diukur dengan indikator
kecukupan modal, likuiditas, dan profitabilitas.
Selain itu, Irham Fahmi (2011:2) mengatakan kinerja keuangan adalah suatu
analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah
melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik
dan benar. Seperti dengan membuat suatu laporan keuangan yang telah memenuhi
standard an ketentuan dalam SAK (Standar Akuntansi Keuangan) atau GAAP (General Accepted Accounting Principle),
dan lainnya.
b.
Tujuan
penilaian kinerja keuangan
Yuli Orniati, (2009:208) pengukuran kinerja keuangan memiliki beberapa
tujuan (Munawir, 2002). Tujuan pertama untuk mengetahui tingkat likuiditas,
yaitu kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada saat ditagih.
Tujuan kedua untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu menunjukkan kemampuan
perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut
dilikuidasi, yang mencakup baik kewajiban jangka pendek maupun kewajiban jangka
panjang. Tujuan ketiga untuk mengetahui tingkat profitabilitas, yaitu
menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba selama periode
tertentu. Tujuan keempat untuk mengetahui stabilitas, yaitu kemampuan
perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur dengan
mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar cicilan secara teratur
kepada pemegang saham tanpa mengalami hambatan.
Begitu pula menurut Jumingan, (2005:239) Berkaitan dengan analisis kinerja
keuangan bank mengandung beberapa tujuan:
1.
Untuk mengetahui keberhasilan pengelolaan
keuangan bank terutama kondisi likuiditas, kecukupan modal, dan profitabilitas
yang dicapai dalam tahun berjalan maupun tahun sebelumnya.
2.
Untuk mengetahui kemampuan bank dalam
mendayagunakan semua asset yang dimiliki dalam menghasilkan profit secara
efisien.
2.
Laporan
Keuangan
a.
Definisi
Laporan Keuangan
Dalam praktiknya laporan keuangan oleh perusahaan dibuat dan disusun sesuai
dengan aturan dan standar yang berlaku. Hal ini diperlukan agar laporan
keuangan mudah dibaca dan dimengerti. Sehingga dapat memberikan informasi bagi
pihak yang memerlukan dan berkepentingan terhadap laporan keuangan.
Menurut Irham Fahmi, (2011:22) Laporan keuangan merupakan suatu informasi
yang menggambarkan kondisi suatu perusahaan, dimana selanjutnya itu akan
menjadi suatu informasi yang menggambarkan tentang kinerja suatu perusahaan.
Dalam pengertian yang sederhana, laporan keuangan adalah laporan yang
menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode
tertentu. Kasmir, (2008:7)
Sedangkan menurut Munawir dalam Irham Fahmi, (2011:22) mengatakan “laporan
keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi
sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh
perusahaan yang bersangkutan.” Dengan begitu laporan keuangan diharapkan akan
membantu bagi para pengguna (users)
untuk membuat keputusan ekonomi yang bersifat finansial.
Begitu pula
menurut Hery, (2012:4) menjelaskan bahwa laporan keuangan merupakan alat
informasi yang menghubungkan perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan,
yang menunjukkan kondisi kesehatan keuangan perusahaan dan kinerja perusahaan.
b.
Jenis-jenis Laporan Keuangan Bank
Menurut Kasmir, (2014:283-285) Sama seperti lembaga lainnya, bank juga
memiliki beberapa jenis laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan SAK dan
SKAPI. Artinya, laporan keuangan dibuat sesuai dengan standar yang telah
ditentukan.
Dalam praktiknya, jenis-jenis laporan keuangan bank yang dimaksud adalah
sebagai berikut:
1.
Neraca
Neraca merupakan laporan yang menunjukkan posisi keuangan bank pada tanggal
tertentu. Posisi keuangan dimaksudkan adalah posisi aktiva (harta), pasiva
(kewajiban dan ekuitas) suatu bank. Penyusunan komponen didalam neraca
didasarkan pada tingkat likuiditas dan jatuh tempo.
2.
Laporan komitmen dan kontijensi
Laporan komitmen merupakan suatu ikatan atau kontrak yang berupa janji yang
tidak dapat dibatalkan secara sepihak (Irrevocable)
dan harus dilaksanakan apabila persyaratan yang disepakati bersama dipenuhi.
Sedangkan laporan kontijensi merupakan tagihan atau kewajiban bank yang
kemungkinan timbulnya tergantung pada terjadi atau tidak terjadinya satu atau
lebih peristiwa dimasa yang akan datang. Penyajian laporan komitmen dan
kontijensi disajikan tersendiri tanpa pos lama.
3.
Laporan laba rugi
Laporan laba rugi merupakan laporan keuangan bank yang menggambarkan hasil
usaha bank dalam suatu periode tertentu. Dalam laporan ini tergambar jumlah
pendapatan dan sumber-sumber pendapatan serta jumlah biaya dan jenis-jenis
biaya yang dikeluarkan.
4.
Laporan arus kas
Laporan arus kas merupakan laporan yang menunjukkan semua aspek yang
berkaitan dengan kegiatan bank, baik yang berpengaruh langsung maupun tidak
langsung terhadap kas. Laporan arus kas harus disusun berdasarkan konsep kas
selama periode laporan.
5.
Catatan atas laporan keuangan
Catatan atas laporan keuangan merupakan laporan yang berisi catatan
tersendiri mengenai posisi devisa neto, menurut jenis mata uang dan aktivitas
lainnya.
6.
Laporan Keuangan Gabungan dan Konsolidasi
Laporan gabungan merupakan laporan dari seluruh cabang-cabang bank yang
bersangkutan, baik yang ada didalam negeri maupun diluar negeri, sedangkan
laporan konsolidasi merupakan laporan bank yang bersangkutan dengan anak
perusahaannya.
c.
Tujuan
Laporan Keuangan
Secara umum laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi keuangan
suatu perusahaan, baik pada saat tertentu maupun periode tertentu.
Adapun
tujuan khusus laporan keuangan adalah menyajikan secara wajar dan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum mengenai posisi keuangan, hasil usaha, dan
perubahan lain dalam posisi keuangan, Hery (2012:4).
Menurut Standar Akuntansi Keuangan (Ikatan Akuntan Indonesia, 1994) dalam
Irham Fahmi, (2011:26) bahwa “ tujuan laporan keuangan adalah menyediakan
informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi
keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam
pengambilan keputusan ekonomi”.
Didalam Kasmir, (2014:281) disebutkan bahwa secara umum tujuan pembuatan
laporan keuangan suatu bank adalah sebagai berikut:
1.
Memberikan informasi keuangan tentang jumlah
aktiva dan jenis-jenis aktiva yang dimiliki.
2. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah kewajiban dan jenis-jenis
kewajiban baik jangka pendek (lancar) maupun jangka panjang.
3. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah modal dan jenis-jenis modal
bank pada waktu tertentu.
4. Memberikan informasi tentang jumlah hasil usaha yang tercermin dari jumlah
pendapatan yang diperoleh dan sumber-sumber pendapatan bank tersebut.
5. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah biaya-biaya yang dikeluarkan
berikut jenis-jenis biaya yang dikeluarkan dalam periode tertentu.
6. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi dalam aktiva,
kewajiban, dan modal suatu bank.
7. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen dalam suatu periode dari
hasil laporan keuangan yang disajikan.
Dengan demikian, laporan keuangan disamping menggambarkan kondisi keuangan
suatu bank juga untuk menilai kinerja manajemen bank yang bersangkutan.
d.
Keterbatasan
Laporan Keuangan
Irham Fahmi, (2012:10) menurut
PAI (Prinsip Akuntansi Indonesia) sifat dan keterbatasan laporan keuangan
adalah sebagai berikut:
1.
Laporan keuangan bersifat historis, yaitu
merupakan laporan atas kejadian yang telah lewat. Karenanya, laporan keuangan
tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi dalam proses
pengambilan keputusan ekonomi.
2.
Laporan keuangan bersifat umum dan bukan
dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu.
3.
Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput
dari penggunaan taksiran dan berbagai pertimbangan.
4.
Akuntansi hanya melaporkan informasi yang
material. Demikian pula penerapan prinsip akuntansi terhadap suatu fakta atau
pos tertentu mungkin tidak dilaksanakan jika hal itu tidak menimbulkan pengaruh
yang material terhadap kelayakan laporan keuangan.
5.
Laporan keuangan bersifat konservatif dalam
menghadapi ketidakpastian, bila terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang
tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, lazimnya dipilih alternative yang
menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil.
6.
Laporan keuangan lebih menekankan pada makna
ekonomis suatu peristiwa/transaksi daripada betuk hukumnya (formalitas)
(substance over form).
7.
Laporan keuangan disusun dengan menggunakan
istilah-istilah teknis dan pemakai laporan di asumsikan memahami bahasa teknis
akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaorkan.
8.
Adanya berbagai alternative metode akuntansi
yang dapat digunkan menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber-sumber ekonomis
dan tingkat kesuksesan antar perusahaan.
9.
Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta
yang tidak dapat dikuantifikasikan umumnya diabaikan.
e.
Pihak-Pihak
yang memerlukan Laporan Keuangan
Berdasarkan Kasmir, (2014:282) menyebutkan bahwa pihak-pihak yang
memerlukan laporan keuangan, diantaranya adalah:
1.
Pemegang saham atau pemilik bank, untuk melihat
kemajuan bank yang dipimpin oleh manajemen dalam suatu periode.
2.
Pemerintah, untuk mengetahui kemajuan bank yang
bersangkutan dan menilai kepatuhan bank untuk membayar kewajibannya kepada
pemerintah.
3.
Manajemen, untuk menilai kinerja perusahaan
dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya selama periode tertentu.
4.
Karyawan, untuk mengetahui kondisi bank
sebenarnya.
5.
Masyarakat luas, dapat mengetahui kondisi bank
yang bersangkutan sehingga masih tetap mempercayakan dananya disimpan di bank
yang bersangkutan atau tidak.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia
(IAI) dalam Jumingan, (2005:5) laporan keuangan sebagai pertanggungan jawab
kepada pihak ekstern (luar perusahaan) harus disusun sedemikian rupa sehingga:
1.
Memenuhi keperluan untuk:
a.
Memberikan informasi keuangan secara kuantitatif
mengenai perusahaan tetentu, guna memenuhi keperluan para pemakai dalam mengambil
keputusan-keputusan ekonomi.
b.
Menyajikan informasi yang dapat dipercaya
mengenai posisi keuangan dan perubahan kekayaan bersih perusahaan.
c.
Menyajikan informasi keuangan yang dapat
membantu para pemakai dalam menaksir kemampuan memperoleh laba dari perusahaan.
d.
Menyajikan informasi lain yang diperlukan
mengenai perubahan dalam harta dan kewajiban, serta mengungkapkan informasi
lain yang sesuai dengan keperluan para pemakai.
2.
Mencapai
mutu sebagai berikut:
a.
Relevan.
b.
Jelas dan dapat dimengerti.
c.
Dapat di uji kebenarannya.
d.
Mencerminkan keadaan perusahaan menurut waktunya
secara tepat.
e.
Dapat dibandingkan.
f.
Lengkap, dan
g.
Netral.
3.
Analisis
Laporan Keuangan
a.
Definisi Analisis Laporan Keuangan
Menurut Sofyan Syafri, (1997:189-190) Analisis laporan keuangan terdiri
dari dua kata yaitu analisis dan laporan keuangan. Analisis adalah memecahkan
atau menguraikan sesuatu unit menjadi berbagai unit terkecil. Sedangkan laporan
keuangan adalah neraca, laba/rugi, dan arus kas (dana). Maka, analisis laporan
keuangan berarti:
“menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih
kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai
makna antara satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun
non-kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam
yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat”.
Menurut Saraswati, Dinastya (2013:3) analisis laporan keuangan tidak lain
merupakan suatu proses untuk membedah laporan keuangan kedalam unsur-unsurnya,
menelaah masing-masing unsur tersebut, dan menelaah hubungan diantara
unsur-unsur tersebut, dengan tujuan untuk memperoleh pengertian dan pemahaman yang
baik dan tepat atas laporan keuangan itu sendiri.
b.
Tujuan dan
Manfaat Analisis Laporan Keuangan
Ada beberapa tujuan dan manfaat bagi
berbagai pihak dengan adanya analisis laporan keuangan. Secara umum dikatakan
bahwa tujuan dan manfaat analisis laporan keuangan adalah:
1.
Untuk
mengetahui posisi keuangan perusahaan dalam satu periode tertentu, baik harta,
kewajiban, modal, maupun hasil usaha yang telah dicapai untuk beberapa periode.
2.
Untuk
mengetahui kelemahan-kelemahan apa saja yang menjadi kekurangan perusahaan.
3.
Untuk
mengetahui kekuatan-kekuatan yang dimiliki.
4.
Untuk
mengetahui langkah-langkah perbaikan apa saja yang perlu dilakukan kedepan yang
berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan saat ini.
5.
Untuk
melakukan penilaian kinerja manajemen kedepan apakah perlu penyegaran atau
tidak karena sudah dianggap berhasil atau gagal.
6.
Dapat juga
digunakan sebagai pembanding dengan perusahaan sejenis tentang hasil yang
mereka capai.
c.
Prosedur Analisis
Laporan Keuangan
Sebelum melakukan analisis laporan keuangan, diperlukan langkah-langkah
atau prosedur tertentu. Langkah atau prosedur ini diperlukan agar urutan proses
analisis mudah untuk dilakukan. Adapun langkah atau prosedur yang dilakukan dalam
analisis laporan keuangan adalah:
1.
Mengumpulkan data keuangan dan data pendukung
yang diperlukan selengkap mungkin, baik untuk satu periode maupun beberapa
periode.
2.
Melakukan pengukuran-pengukuran atau
perhitungan-perhitungan dengan rumus-rumus tertentu, sesuai dengan standar yang
biasa digunakan secara cermat dan teliti, sehingga hasil yang diperoleh
benar-benar tepat.
3.
Melakukan perhitungan dengan memasukkan
angka-angka yang ada dalam laporan keuangan secara cermat.
4.
Memberikan interprestasi terhadap hasil
perhitungan dan pengukuran yang telah dibuat.
5.
Membuat laporan tentang posisi keuangan
perusahaan.
6.
Memberikan rekomendasi yang dibutuhkan
sehubungan dengan hasil analisis tersebut.
d.
Metode
Analisis Laporan Keuangan
Menurut Kasmir, (2008:69) Dalam praktiknya, terdapat dua macam metode
analisis laporan keuangan yang biasa dipakai, yaitu sebagai berikut:
1.
Analisis Vertikal (Statis)
Analisis vertikal merupakan analisis yang dilakukan terhadap hanya satu
periode laporan keuangan saja. Analisis dilakukan antara pos-pos yang ada,
dalam satu periode. Informasi yang diperoleh hanya untuk satu periode saja dan
tidak diketahui perkembangan dari periode ke periode.
2.
Analisis Horizontal (Dinamis)
Analisis horizontal merupakan analisis yang dilakukan dengan membandingkan
laporan keuangan untuk beberapa periode. Dari hasil analisis ini akan terlihat
perkembangan perusahaan dari periode yang satu ke periode yang lain.
e.
Jenis-jenis
Teknik Analisis Laporan Keuangan
Kemudian, disamping metode yang digunakan untuk menganalisis laporan
keuangan, terdapat beberapa jenis-jenis teknik analisis laporan keuangan.
Adapun jenis-jenis teknik laporan keuangan yang dapat dilakukan adalah sebagai
berikut:
1.
Analisis perbandingan antara laporan keuangan merupakan analisis yang dilakukan dengan membandingkan laporan keuangan
lebih dari satu periode.
2.
Analisis trend atau
tendensi merupakan analisis laporan keuangan yang biasanya dinyatakan dalam persentase
tertentu.
3.
Analisis persentase per komponen merupakan analisis yang dilakukan untuk membandingkan antara komponen yang
ada dalam suatu laporan keuangan, baik yang ada di neraca maupun laporan laba
rugi.
4.
Analisis sumber dan penggunaan dana merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui sumber-sumber dana
perusahaan dan penggunaan dana dalam suatu periode.
5.
Analisis sumber dan penggunaan kas merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui sumber-sumber kas
perusahaan dan penggunaan uang kas dalam suatu periode.
6.
Analisis rasio merupakan
analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan pos-pos yang ada dalam satu
laporan keuangan atau pos-pos antara laporan keuangan neraca dan laporan laba
rugi.
7.
Analisis kredit merupakan
analisis yang digunakan untuk menilai layak tidaknya sustu kredit dikucurkan
oleh lembaga keuangan seperti bank.
8.
Analisis laba kotor merupakan
analisis yang digunakan untuk mengetahui jumlah laba kotor dari periode ke satu
periode.
9.
Analisis titik pulang pokok atau titik impas (break even point) tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui pada kondisi berapa penjualan
produk dilakukan dan perusahaan tidak mengalami kerugian. Kegunaan analisis ini
adalah untuk menentukan jumlah keuntungan pada berbagai tingkat penjualan.
4.
Analisis Rasio
Keuangan
a.
Definisi
Analisis Rasio Keuangan
Menurut Jumingan, (2005:242) analisis rasio keuangan merupakan analisis
dengan jalan membandingkan satu pos dengan pos laporan keuangan lainnya baik
secara individu maupun bersama-sama guna mengetahui hubungan di antara pos
tertentu, baik dalam neraca maupun laba rugi.
Begitu pula menurut S. Munawir (2002:33) dalam Ulin Ni’mah (2011:20),
analisis rasio keuangan merupakan suatu metode analisa untuk mengetahui
hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca atau laba/rugi secara individu atau
kombinasi dari kedua laporan tersebut.
Sedangkan pengertian rasio keuangan menurut James C Van Horne dalam kasmir
(2008:104) merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan
diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka lainnya. Rasio keuangan
digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Dari
hasil rasio keuangan ini akan terlihat kondisi kesehatan perusahaan yang
bersangkutan.
Jadi, rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada
dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya.
Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen dalam satu
laporan keuangan atau antarkomponen yang ada diantara laporan keuangan.
Kemudian angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-angka dalam satu periode
maupun beberapa periode.
b.
Hubungan
Rasio Keuangan dan Kinerja Keuangan
Menurut Warsidi dan Bambang dalam Irham Fahmi, (2011:45-46) “Analisis rasio
keuangan merupakan instrument analisis prestasi perusahaan yang menjelaskan
berbagai hubungan dan indikator keuangan, yang ditujukian untuk menunjukkan
perubahan dalam kondisi keuangan atau prestasi operasi di masa lalu dan
membantu menggambarkan trend pola perubahan tersebut, untuk kemudian
menunjukkan risiko dan peluang yang melekat pada perusahaan yang bersangkutan”.
Jadi untuk menilai kondisi dan kinerja keuangan dapat digunakan rasio yang
merupakan perbandingan angka-angka yang terdapat pada pos-pos laporan keuangan.
Maka dari itu, dapat dimengerti bahwa rasio keuangan dan kinerja keuangan
mempunyai hubungan yang erat dalam pengaplikasiannya.
c.
Manfaat
Analisis Rasio Keuangan
Menurut Irham Fahmi (2012:109) Adapun manfaat analisis rasio keuangan
adalah:
1.
Untuk dijadikan sebagai alat menilai kinerja dan
prestasi perusahaan.
2.
Sebagai rujukan untuk membuat perencanaan bagi
pihak manajemen.
3.
Sebagai alat untuk mengevaluasi kondisi suatu
perusahaan dari perspektif keuangan.
4.
Bagi para kreditor dapat digunakan untuk
memperkirakan potensi risiko yang akan dihadapi dikaitkan dengan adanya jaminan
kelangsungan pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman.
5.
Dapat dijadikan sebagai penilaian bagi pihak
stakeholder organisasi.
d.
Keterbatasan
Analisis Rasio Keuangan
Dalam praktiknya, walaupun rasio keuangan yang digunakan memiliki fungsi
dan kegunaan yang cukup banyak bagi perusahaan dalam mengambil keputusan, bukan
berarti rasio keuangan yang dibuat sudah menjamin 100% kondisi dan posisi
keuangan yang sesungguhnya. Karena rasio keuangan yang digunakan juga memiliki
banyak kelemahan. Seperti dijelaskan oleh J. Fred Weston dalam kasmir
(2008:117) sebagai berikut:
1.
Data keuangan disusun dari data akuntansi.
Kemudian data tersebut ditafsirkan dengan berbagai cara, misalnya masing-masing
perusahaan menggunakan metode penyusutan yang berbeda untuk menentukan nilai
penyusutan aktivanya sehingga menghasilkan nilai penyusutan setiap periode juga
berbeda.
2.
Prosedur pelaporan yang berbeda, mengakibatkan
laba yang dilaporkan berbeda pula, (dapat naik atau turun), tergantung prosedur
pelaporan keuangan tersebut.
3.
Adanya manipulasi data, akibatnya hasil
perhitungan rasio keuangan tidak menunjukkan hasil yang sesungguhnya.
4.
Perlakuan pengeluaran untuk biaya-biaya antara
satu perusahaan dengan perusahaan lainnya berbeda.
5.
Penggunaan tahun fiscal yang berbeda, juga dapat
menghasilkan perbedaan.
6.
Pengaruh musiman mengakibatkan rasio komperatif
akan ikut berpengaruh.
7.
Kesamaan rasio keuangan yang telah dibuat dengan
standar industri belum menjamin perusahaan berjalan normal dan telah dikelola
dengan baik.
e.
Solusi dalam
mengatasi Keterbatasan Analisis Rasio Keuangan
Oleh karena rasio-rasio keuangan yang digunakan memiliki banyak kelemahan,
maka diperlukan prinsip kehati-hatian agar dapat meminimalkan risiko kesalahan
dalam membuat rasio keuangan. Setidaknya dengan tindakan kehati-hatian ini
dapat membantu dalam menutupi kelemahan dari rasio tersebut.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis laporan keuangan adalah
sebagai berikut:
1.
Analisis dan perhitungan harus dilakukan secara
cermat dan akurat.
2.
Kalau terjadi perbedaan, sebaiknya
direkonsiliasi terlebih dahulu
3.
Dalam menyimpulkan hasil rasio keuangan suatu
perusahaan, baik buruknya, hendaknya dilakukan secara hati-hati.
4.
Sebaiknya analis harus memiliki dan menguasai
informasi tentang operasional dan manajemen perusahaan.
5.
Jangan terlalu terpengaruh dengan rasio keuangan
yang normal.
6.
Analis juga harus memiliki indra keenam yang
tajam. Artinya dapat melihat hal-hal yang terkandung atau tersembunyi dalam
laporan keuangan berdasarkan pengalaman sebelumnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar